4+

Mesin Destilasi

360+

Petani Binaan

60Ha+

Lahan Kritis Tergarap

Integrasi Budidaya dan Pembibitan demi Menjaga Kualitas Atsiri dari Hulu

Di Shafaluna, budidaya tanaman atsiri bukan sekadar proses menanam lalu memanen. Ia dimulai dari cara membaca lahan terutama lahan karst yang sering dianggap “keras kepala". Justru di situlah pendekatan yang tepat menjadi pembeda.
Tanaman seperti seraiwangi dan kayuputih dipilih bukan tanpa alasan. Keduanya adaptif terhadap kondisi tanah yang minim unsur hara, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang stabil. Artinya, sejak awal, budidaya sudah dirancang untuk realistis: cocok dengan lahan, relevan dengan pasar.

Pembibitan: Menjaga Konsistensi dari Awal
Tahap pembibitan menjadi kunci utama. Shafaluna menekankan penggunaan bibit yang sehat dan seragam, baik melalui pemisahan anakan maupun metode vegetatif lainnya. Tujuannya sederhana: memastikan pertumbuhan yang relatif seragam dan meminimalkan risiko gagal tanam.
Proses ini tidak terburu-buru. Bibit dipersiapkan hingga cukup kuat beradaptasi dengan lingkungan terbuka. Karena kalau dari awal sudah “dipaksa”, biasanya hasil akhirnya ikut kompromi.

Budidaya: Menyesuaikan, Bukan Memaksakan
Pendekatan budidaya di Shafaluna cenderung adaptif. Pengelolaan lahan dilakukan dengan mempertimbangkan karakter tanah karst: drainase cepat, kandungan air terbatas, dan struktur tanah yang cenderung keras.

Alih-alih melawan kondisi alam, sistem tanam justru mengikuti pola yang lebih efisien:
1. Penanaman dilakukan dengan jarak yang cukup agar akar berkembang optimal
2. Pemeliharaan fokus pada pengendalian gulma dan menjaga kelembapan tanah
3. Minim intervensi kimia, untuk menjaga kualitas minyak atsiri tetap stabil

Dengan pendekatan ini, tanaman tidak hanya tumbuh, tapi juga menghasilkan kandungan minyak yang lebih konsisten.

Dari Lahan ke Nilai Tambah
Yang menarik, budidaya di Shafaluna tidak berhenti di hasil panen. Daun seraiwangi yang dihasilkan langsung masuk ke proses penyulingan. Ini membuat rantai produksi lebih pendek dan nilai tambah tetap berada di tingkat petani.

Di titik ini, budidaya bukan lagi sekadar aktivitas pertanian, tapi bagian dari sistem yang utuh dari lahan, ke minyak atsiri, hingga produk turunan.